Vitamin K berasal dari bahasa Jerman ”Koagulation” yang artinya penggumpalan. Vitamin K berfungsi untuk mengurangi dan menghentikan luka pendarahan, membentuk protombin darah, dan menanggulangi stress akibat cekaman. Defisiensi vitamin K dapat menyebabkan lamanya proses pembekuan darah dan kesembuhan luka serta pendarahan akibat luka yang diakibatkan pecahnya pembuluh darah. Unggas yang terkena penyakit koksidiosis membutuhkan vitamin K dalam jumlah yang banyak. Sumber vitamin K dapat diperoleh melalui tepung ikan, hijauan dan vitamin K sintetis.
16 Juni 2009
Vitamin E
Vitamin E berperan sebagai antioksidan dalam melindungi zat nutrisi yang lain seperti vitamin A dan asam lemak tak jenuh dari proses oksidasi. Namun vitamin E mudah rusak oleh lemak yang telah teroksidasi. Allen et al. (2002) melaporkan bahwa vitamin E harus ada di dalam pakan unggas sekitar 17-48 mg/kg pakan. Vitamin E yang ada di dalam pakan dihidrolisis kemudian diserap oleh usus halus, lalu bergabung dengan membran sel yang dapat berfungsi sebagai pelindung sel dari radikal bebas. Pemberian vitamin E dosis tinggi dilaporkan dapat mencegah penyakit koksidiosis. Abdulkalykova et al. (2006) melaporkan bahwa vitamin E merupakan vitamin yang dapat memperbaiki respon imunitas dan meningkatkan resistensi terhadap infeksi penyakit.
Akbari et al. (2008) menambahkan bahwa Vitamin E merupakan sumber antioksidan yang berfungsi untuk menjaga fungsi sel imun. Pemberian pakan yang defisien vitamin E dapat menurunkan jumlah limfosit dalam bursa dan timus. Vitamin E juga berperan dalam menjaga kekebalan unggas dari serangan infeksi E. Coli, koksidiosis, IBD (Infectious Bursal Disease) dan Newcastle Disease. Bahan pakan sumber vitamin E antara lain biji-bijian, bungkil, jagung, dedak padi dan vitamin E sintetis.
Vitamin D
Vitamin D berfungsi untuk meregulasi level kalsium dan fosfor dalam darah dengan cara mengatur absorpsi kalsium dan fosfor dari pakan di dalam usus halus, merearbsorpsi kalsium di dalam ginjal dan mineralisasi tulang serta kerabang telur. Vitamin D juga berperan dalam menghambat sekresi hormon paratiroid pada kelenjar paratiroid dan mencegah penyakit hipokalsemia. Sumber vitamin D dapat diperoleh dari sinar matahari, minyak ikan, susu, kacang-kacangan dan vitamin D sintetis. Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan osteomalasia dan rakhitis.
Vitamin D2 dan D3 yang ada di dalam pakan akan diserap oleh usus halus, kemudian dikirim oleh darah menuju hati yang akan dikonversi menjadi 25-hidroksikolekalsiferol dan akan dikirim ke ginjal untuk diubah menjai 1,25-dihidroksikolekalsiferol, bentuk aktif dari vitamin D. Senyawa tersebut kemudian diedarkan oleh darah ke seluruh jaringan, saluran pencernaan, tulang dan organ reproduksi. Senyawa 1,25-dihidroksikolekalsiferol bekerja dengan steroid untuk meregulasi transkripsi DNA di dalam vili usus untuk menginduksi sintesis mRNA yang bertanggung jawab terhadap produksi senyawa kalsium yang berikatan dengan protein. Protein akan terlibat dalam absorpsi kalsium di dalam lumen usus. Jumlah 1,25-dihidroksikolekalsiferol yang diproduksi di ginjal diatur oleh hormon paratiroid. Apabila kadar kalsium di dalam darah rendah (hipokalsemia), kelenjar paratiroid akan memproduksi hormon paratiroid lebih banyak. Produksi 1,25-dihidroksikolekalsiferol di dalam ginjal menjadi lebih banyak dengan adanya hormon paratiroid yang banyak sehingga akan meningkatkan absorpsi kalsium di dalam usus halus.
Ergokalsiferol
kolekalsiferol
sitokalsiferol
Vitamin A
Vitamin A merupakan vitamin yang terdiri dari molekul bipolar kovalen yang terikat antara hidrogen dan karbon. Bagi ternak unggas, vitamin A diperoleh dari prekursor vitamin A yaitu karoten (provitamin A) di dalam pakan. Lalu oleh tubuh ternak, karoten diubah menjadi vitamin A. Vitamin A terakumulasi pada hati. Vitamin A mudah dirusak oleh mikroba di dalam saluran pencernaan serta saat unggas terkena koksidiosis.
Vitamin A tidak terkandungan di dalam tanaman namun masih berbentuk prekursor atau provitamin dalam bentuk karotenoid yang akan diubah menjadi vitamin. Pada tanaman, karoteniod berwarna kuning, oranye atau merah namun warna tersebut terbungkus oleh warna hijau yaitu kloropil. Senyawa karotenoid dapat terpecah menjadi dua senyawa utama yaitu xantofil dan karoten yang dapat diubah menjadi vitamin A. Selain itu juga ada senyawa lain hasil turunan karotenoid seperti lutein, kriptoxantine dan zeaxantin yang tidak dapat dikonversikan menjadi vitamin A. Pada karotem, gugus β-karoten merupakan sumber utama pembentuk vitamin A.
Konversi karoten menjadi vitamin A terjadi di dalam hati, namun biasanya juga dikonversi di mukosa usus. Secara umum pada ternak unggas, untuk membentuk 1 mg vitamin A dibutuhkan karoten sebanyak 3 mg. Vitamin A yang terkandung di dalam pakan memiliki satuan international units (IU) yang memiliki makna 1 IU vitamin A setara dengan 0,3 μg vitamin A. Provitamin A banyak terdapat pada jagung kuning, hijauan, minyak ikan, susu, vitamin A sintetis dan hati. Minyak dari hati ikan khususnya ikan cod dan halibut memiliki kandungan vitamin A yang tinggi.
Vitamin A sangat berperan pada organ penglihatan yaitu mata khususnya untuk memacu kinerja impuls syaraf yang menghubungkan syaraf mata dengan otak. Oleh karena itu defisiensi vitamin A dapat menyebabkan kebutaan. Vitamin A juga berperan dalam menjaga kondisi permukaan mukosa usus, memacu respon antibodi dan limfosit. Pemberian pakan yang defisien vitamin A dapat memberi efek negatif bagi pertahanan mukosa usus dari serangan mikroba, menurunkan berat bursa dan timus serta menurunkan resistensi terhadap infeksi (Akbari et al., 2008). Anak ayam yang menetas akan cacat tubuh apabila berasal dari indukan yang defisiensi vitamin A (Zile, 1998).
Iskandar (2005) melaporkan bahwa vitamin A berfungsi untuk mempertahankan keutuhan sel-sel epitel saluran pencernaan. Pada waktu ayam terserang koksidiosis yang hebat, maka perlu cadangan vitamin A di dalam hati untuk memelihara struktur seluler yang normal dari membran mukosa. Oleh karena itu salah satu cara untuk menekan penyakit koksidiosis pada unggas dapat diberikan suplementasi vitamin A. Selain itu vitamin A juga berperan pada indera penglihatan dan sistem koordinasi syaraf. Hoehler et al. (1996) melaporkan bahwa vitamin A dapat digunakan untuk antioksidan dan secara signifikan menghambat penyebaran aflatoksin masuk ke dalam jaringan liver, hati dan ginjal pada ayam. Denli et al. (2003) melaporkan pula bahwa dosis 15.000 UI vitamin A/kg pakan yang tercemar aflatoksin mampu mempertahankan kondisi tubuh puyuh (bobot badan akhir, konsumsi pakan, konversi pakan dan serum darah) yang sama dengan puyuh yang tidak diberi pakan yang tercemar aflatoksin.
11 Mei 2009
Vitamin
Istilah vitamin pertama kali ditemukan oleh ahli biokimia dari Polandia bernama Cashimir Funk pada tahun 1912 yang mendefisinikan vitamin berasal dari kata ”vital” dan ”amine” (Burgos et al., 2006). Vitamin merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan ternak dalam jumlah sedikit namun memiliki peran yang besar seperti berperan dalam proses meabolisme sebagai koenzim, pertumbuhan, kesehatan, reproduksi dan kelangsungan hidup.
Vitamin merupakan bahan organik yang beberapa diantaranya tidak dapat disintesis oleh tubuh ternak kecuali vitamin D yang disintesis dari sinar matahari, niasin disintess dari triptofan dan vitamin C. Vitamin terdiri dari dua bagian yaitu vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E dan K serta vitamin yang larut dalam air seperti seluruh vitamin B dan C.
a. Vitamin yang Larut dalam Lemak
Vitamin yang larut di dalam lemak terdiri dari vitamin A, D, E dan K. Vitamin tersebut mudah rusak (terdenaturasi) akibat proses oksidasi dan temperatur tinggi terutama pada proses pelleting.
b. Vitamin yang Larut dalam Air
Ada dua jenis vitamin yang larut di dalam air yaitu vitamin B dan C. Vitamin B sangat berperan dalam proses metabolisme di dalam tubuh unggas. Vitamin B berfungsi untuk mendukung dan mempercepat proses metabolisme, memelihara kondisi kulit dan tulang, meningkatkan fungsi syaraf dan imunitas serta meningkatkan pertumbuhan ternak. Ada banyak jenis vitamin B yang ada di alam namun hanya ada 8 jenis vitamin B yang diperlukan bagi unggas yaitu Vitamin B1 (Thiamin), B2 (Riboflavin), B3 (Niasin), B5 (Asam Pantotenat), B6 (Piridoksin), B7 (Biotin), B9 (Asam Folat) dan B12 (Kobalamin). Kombinasi kedelapan jenis vitamin tersebut biasa disebut vitamin B kompleks.